Gangguan komunikasi, gangguan eleminasi dan gangguan kecemasan

Posted: June 5, 2010 in Uncategorized

GANGGUAN KOMUNIKASI

Gangguan Bahasa Ekspresif

Pada gangguan ekspretif anak-anak berada di bawah kemampuan yang di harapkan dalam hal perbendaharaan kata, pemakaian keterangan waktu (tenses) yang tepat, produksi kalimat yang kompleks, dan mengingat kata-kata. Ketidakmampuan bahasa dapat di peroleh setiap saat selama masa anak-anak ( sebagai contohnya, sekunder akibat trauma atau suatu gangguan neurologis), atau merupakan perkembangan dan biasanya kongenital tanpa penyebab yang jelas. Sebagai besar gangguan bahasa anak masuk kedalam kategori perkembangan. Pada kedua kasus, defisit dalam keterampilan reseptif ( pemahaman bahasa ) atau ketampilan ekspresif (kemampuan mengekspresikan bahasa) dapat terjadi. Gangguan bahasa ekspresif sering terjadi tanpa adanya kesulitan pemahaman, sedangkan disfungsi reseptif biasanya juga mempengaruhi ekspresi bahasa.

Anak-anak dengan gangguan bahasa ekspresif saja memiliki perjalanan penyakit, prognosis, dan diagnosis komorbid yang berbeda dari anak-anak dengan gangguan bahasa reseptif / ekpretif campuran. Dalam Diagnostic and Statistical Manual Of Mental Disosders edisi yang di revisi (DSM –III-R), gangguan bahasa ekspresif  perkembangan dan gangguan bahasa reseptif perkembangan di tuliskan secara terpisah, walaupun pada sebagian kasus, jika gangguan reseptif terjadi, gangguan ekspresif juga terjadi bersamaan. Dalam edisi keempat (DSM-IV) diagnosis gangguan bahasa ekspresif tetap ada tetapi gangguan bahasa reseptif tidak ada. Dalam DSM – IV, diagnosis gangguan bahasa reseptif/ekspresif campuran didiagnosis jika sindroma bahasa reseptif maupun ekspresif adalah di temukan adan gangguan bahasa reseptif/ekspretif campuran adalah suatu kriteria penyingkiran untuk gangguan bahasa ekspretif. Jadi, dalam DSM-IV gangguan bahasa reseptif dapat didiagnosis hanya jika sindroma lengkap gangguan ekspresif juga di temukan.

Dalam DSM-IV, gangguan bahasa ekspresif dan gangguan bahasa reseptif / ekspresif campuran  tidak terbatas pada ketidakmampuan bahasa perkembangan ; bentuk yang di dapat dari gangguan bahasa juga dimasukkan.

Untuk memenuhi kriteria gangguan bahasa ekspresif, pasien harus memiliki skor dari pengukuran bahasa ekspresif  yang baku yang jelas rendah pada subtes I.Q. nonverbal baku dan tes bahasa reseptif yang baku.

GANGGUAN BAHASA RESEPTIF/EKSPRESIF CAMPURAN

Dalam gangguan bahasa reseptif/ekspresif campuran anak terganggu dalam pengertian dan ekspresif bahasa. Diagnostic and statistical manual of mental disorders edisi keempat (DSM-IV) adalah manual diagnostic pertama yang mengkombinasikan gangguan bahasa reseptif dan gangguan bahasa ekspresif. Implikasinya adalah bahwa gangguan bahasa reseptif yang bermakna secara klinis selau di sertai oleh disfungsi bahasa ekspresif. Dengan DSM – IV, tidak dimungkinkan untuk menjadikan bahasa reseptif tanpa adanya gangguan bahasa ekspresif. Dalam DSM edisi ke tiga yang direvisi (DSM – III- R), kategori gangguan bahasa reseptif perkembangan adalah terbatas pada disfungsi reseptif dengan sifat perkembangan. DSM-IV memungkinkan gangguan reseptif dan ekspretif yang didapat, dan juga gangguan yang kongenital atau bersifat perkembangan.

Ciri penting dari gangguan bahasa reseptif / ekspresif campuran mengharuskan bahwa skor dari tes perkembangan  bahasa reseptif (pemahaman) maupun ekspresif yang baku adalah di bawah nilai yang didapatkan dari pengukuran kapasitas intelektual nonverbal yang baku. Kesulitna bahasa harus cukup parah untuk mengganggu pencapaian akademik atau komunikasi social sehari-hari. Pasien mungki8n tidak memenuhi criteria untuk gangguan perkembangann pervasive, dan disfungsi bahasa harus melebihi yang biasanya yang berhubungan dengan retardasi mental dan sindroma neurologis dan defisit sensorik lainnya.

Epidemiologi

Prevalensi diperkirakan terentang dari 1 sampai 13 persen untuk gangguan bahasa reseptif maupun ekspresif. Gangguan bahasa ekspresif saja jauh dianggap lebih sering dibandingkan gangguan bahasa reseptif saja. Kedua gangguan dianggap lebih sering pada anak laki-laki dibandingkan anak perempuan.

Tidak ada penelitian yang telah memeriksa prevalensi gangguan bahasav reseptif/ekspresif campuran menurut kategori DSM-IV, tetapi prevalensi memperkirakan anak-anak yang emmiliki gangguan bahasa reseptif maupun ekspresif adalah 3 sampai 5 persen.

Etiologi

Penyebab gangguan bahasa reseptif /ekspresif campuran tidak diketahui. Teori awal menuliskan disfungsi perceptual, cedera serebral yang samar – samar, keterlambatana maturasional, dan factor genetik sebagai kemungkinan factor penyebab, tetapi tidakn ada bukti definitive yang mendukung teori tersebut. Beberapa penelitian menyatakan adanya gangguan dasar pada diskriminasi audiotorik, karena sebagai besar anak dengan gangguan adalah lebih responsive terhadap suara llingkungan dibandingkan suara bicara. Seperti gangguan bahasa ekspresif, sisi kidal dan ambilateralitas tampaknya meningkatkan risiko.

Gambaran klinis

Cirri klinis penting  dari gangguan adalah gangguan yang bermakna pada pemahaman bahasa dan ekspresi bahasa. Pada gangguan campuran, gangguan ekspresif adalah  serupa dengan yang ditemukan pada gangguan bahasa ekspresif tetapi dapat lebih parah.

Gambaran klinis komponen reseptif dari gangguan biasanya tampak sebelum usia 4 tahun. Bentuk yang parah telihat pada usia 2 tahun ; bentuk ringan mungkin tidak terlihat sampai usia 7 tahun ( kelas dua) atau lebih tua, saat bahasa menjadi kompleks. Anak-anak dengan gangguan bahasa reseptif/ekspretif campuran juga menunjukkan keterlambatan yang jelas dan kemampuan yang di bawah rata-rata untuk memahami (membaca sandi [decode]) bahasa verbal atau isarat, walaupun mereka memiliki kasitas intelektual non verbal yang sesuai dengan usianya.  Gambaran klinis gangguan bahasa reseptif/ekspresif campuran pada anak-anak antara usia 18 dan 24 bulan akibat dari kegagalan anak untuk membuat ucapan spontan fonem (unit suara) tunggal atau untuk meniru suara orang lain.

Banyak anak dengan gangguan bahasa reseptif atau ekspretif campuran memiliki gangguan auditoria sensorik atau tidak mampu memproses symbol visual, seperti arti suatu gambar. Mereka memiliki defisit dalam mengintregasikan symbol auditorik maupun visual. Contohnya, mengenali atribut dasar yang umum untuk mainan truk dan mainan mobil penumpang. Bila mana anak dengan gangguan bahasa ekspresif hanya pada usia 18 bulan dapat memahami perintah tunggal dan dapat menunjuk ke benda-benda rumah tangga yang di kenalnya jika diminta demikian, anak-anak dengan usia yang sama dengan gangguan bahasa reseptif/ekspresif campuran tidak mampu menunjuk ke benda-benda yang umum atau mematuhi perintah sederhana. Seorang anak yang gangguan bahasa reseptif/ekspresif campuran biasa tampak tuli tetapi anak sebenarnya mendengar dan berespon secara normal pada suara yang bukan bahasa dari lingkungan tetapi tidak pada bahasa percakapan. Jika anak  mulai berbicara di kemudian waktu, bicaranya mengadung berbagai kesalahan artikulasi, seperti menghilangkan, distorsi, dan subsitusi fonem. Pencapaian bahasa adalah jauh lebih lambat untuk anak-anak dengan gangguan bahasa reseptif/ekspretif campuran di bandingkan anak normal.

Anak-anak dengan gangguan bahasa rseptif/ekspresif campuran juga memiliki kesulitan dalam mengingat – ingatan visual dan auditoris awal dan mengenali dan mereproduksi symbol dalam urutan yang tepat. Pada beberapa kasus yang di temukan kelainan elektroensefalogram (EEG) bilateral. Beberapa anak dengan gangguan bahasa reseptif/ekspretif campuran memiliki efek pedengaran parsial untuk irama sebenarnya, peningkatan ambang kesadaran auditoris, dan ketidak mampuan melokalisasi sumber suara gangguan kejang dan gangguan membaca adalah lebih sering dari sanak saudara dari anak dengan gangguan bahasa reseptif/ekspretif campuran di bandingkan pada populasi umum.

Terapi

Pemeriksaan bicara dan bahasa yang lengkap, sebelum terapi bicara dan bahasa, biasanya di anjurkan untuk anak-anak dengan gangguan bahasa reseptif/ekspretif campuran, terlepas dari tidak adanya penelitian yang terkendali mengenai terapi gangguan. Beberapa ahli terapi menyukai lingkungan stimuli lingkungan, dimana anak di berikan lingungistik individual. Beberapa lainnya menganjurkan instruksi bicara dan bahasa diintegrasikan  ke dalam berbagai lingkungan dengan kelompok anak yang di ajarkan beberapa struktur bahasa secara bersama-sama. Banyak gejala yang terlibat dalam gangguan, sehingga lingkungan pendidikan yang khusus dan kecil mungkin bermanfaat dalam memaksimalkan hasil terapi.

Psikoterapi sering di perlukan karena anak-anak dengan gangguan campuran sering memiliki masalah emosional dan perilaku. Perhatian khusus harus di berikan untuk meningkatkan citra diri anak dan keterampilan social. Konseling keluarga dimana orang tua di ajarkan pola interaksi yang sesuaia dengan anak juga membantu.

TERAPI GANGGUAN BAHASA EKSPRESIF

Terapi harus dimulai segera setelah diagnosis gangguan bahasa ekspresif. Terapi tersebut terdiri dari latihan pendorong perilaku dan praktek  dengan fonem (unti suara), perbedaharaan kata, dan kontruksi kalimat. Tujuannya adalah untuk meningkatkan jumlah frasa dengan menggunakan metoda menyusun balok dan terapi bicara konvensional.

Psikoterapi biasanya tidak diindikasikan kecuali anak dengan gangguan bahasa menunjukkan tanda kesulitan perilaku atau  emosional yang bersamaan atau sekunder..

Konseling parental suportif mungkin diindikasikan pada beberapa kasus. Orang tua mungkin perlu bantuan untuk menurunkan ketegangan keluarga yang timbul akibat kesulitan dalam membesarkan anak dengan gangguan bahasa dan untuk meningkatkan kesadaran dan pengertian mereka tentang gangguan anak.

GAMBARAN KLINIS

Gangguan dengan bentuk yang berat terlihat sebelum usia 3 tahun, bentuk yang kurang berat mungkin tidak terjadi sampai masa remaja awal, saat bahas biasanya menjadi kompleks. Cirri inti dari anak dengan gangguan bahasa ekpresif adalah gangguan jelas dalam perkembangan bahasa ekspresif yang sesuai dengan usia, yang menyebabkan pemakai bahasa verbal atau isyarat yang jelas di bawah tingkat yang diharapakan, mengingat kapasitas intelektual nonverbal. Pemahaman bahasa anak (membaca sandi[decoding] ) tetap relative utuh.

Gangguan menjadi jelas pada kira-kira usia 18 bulan, saat anak tidak dapat mengucapkan kata dengan spontan atau bahkan untuk meniru kata atau suara tunggal. Bahkan kata sederhana, seperti “mama” dan “dada” tidak ada dari perbendaharaan kata aktif anak, dan anak menunjukkan atau menggunakan gerakan badannya untuk menyatakan keinginannya. Anak tampaknya ingin berkomunikasi, mempertahankan kontak mata, berhubungan baik dengan ibu, dan menikmati permaianan seperti cilukba dan peekabo..

Pengulangan perbendaharaan kata anak adalah sangat terbatas. Pada usia 18 bulan, sebagian besar anak, dapat memahami perintah sederhana dan dapat menunjuk benda-benda yang umum sambil menyebutkan namanya. Jika anak akhirnya mulai berbicara, defisit bahasa menjadi jelas. Artikulasi biasanya imatur. Berbagai kesalahan artikulasi ditemukan tetapi tidak konsisten, terutama dengan bunyi tertentu seperti th, r, s, z,y, dan ,i yang dilewatkan atau diganti dengan bunyi lain.

Pada usia 4 tahun, sebagian besar anak dengan gannguan bahasa ekpretif berrbicar dengan frasa pendek, tetapi mereka tampaknya melupakan kata yang lama saat mereka mempelajari kata yang baru. Setelah mulai berbicara, mereka mendapatkan bahasa lebih lambat dibandingkan anak normal. Mereka menggunakan berbagai struktur tata bahasa yang juga lebih rendah dibandingkan tingkat yang diharapkan menurut usianya. Kejadian perkembangan mereka mungkin juga agak terlambat. Gangguan fonologi sering ditemukan. Gangguan koordinasi perkembangan dan enuresis adalah gangguan yang sering menyertai.

Komplikasi

Masalah emosional yang berupa citra diri yang buruk, frustasi, dan depresi dapat berkembang pada usia sekolah. Anak-anak dengan gangguan bahasa ekspresif mungkin juga menderita gangguan belajar, dimanifestasikan oleh retardasi membaca, yang dapat menyebabkan kesulitan serius dalam berbagai mata pelajaran akademik. Kesulitan belajar utama adalah keterampila perceptual dan keterampilan untuk mengenali dan proses symbol dalam urutan yang tepat.

Gejala dan masalah perilaku lain yang dapat tampak pada anak-anak dengan gangguan bahasa ekspresif adalah hiperaktivitas, rentang perhatian yang singkat, perilaku menarik diri, menghisap ibu jari, temper tantrum, ngompol, tidak patuh, rentan terhadap kecelakaan, dan gangguan konduksi. Kelainan neorologis telah dilaporkan pada sejumlah anak-anak, termasuk tanda neurologis lunak, respon vestibular yang terdepresi, dan kelainan efek troensefalogram (EEG).

Banyak gangguan –  seperti gangguan membaca, gangguan koordinasi perkembangan, dan gangguan komunikasi lain adalah berhubungan dengan gangguan bahasa ekpresif. Anak-anak dengan ganggguan bahasa ekpresif sering memiliki suatu gangguan reseptif, walaupun tidak selalu cukup bermakna untuk berdiagnosis gangguan bahasa reseptif / ekspretif campuran. Kejadian motorik yang terlambat dan riwayat enuresis adalah sering ditemukan pada anak-anak dengan gangguan bahasa ekpresif. Gangguan fonologis biasanya ditemukan pada anak-anak kecil dengan gangguan.

Suatu penelitian besar terhadap anak-anak di klinik bahasa dan bicara masyarakat telah menemukan bahwa separuh dari mereka dengan gangguan bahasa ekspresif memenuhi kriteria untuk gangguan mental lain, yang tersering adalah gangguan defisit – atensi / hiperaktivitas. Penelitian terakhir lain menemukan bahwa lebih dari sepertiga anak yang dirujuk ke klinik psikiatrik rawat jalan memiliki gangguan bahasa.

EPIDEMIOLOGI GANGGUAN BAHASA EKSPRESIF

Prevalensi gangguan bahasa ekspresif terentang dari 3 sampai 10 persen dari semua anak usia sekolah, dengan sebagian besar perkiran adalah antara 3 dan 5 persen. Gangguan adalah dua sampai tiga kali lebih sering pada anak laki-laki di bandingkan pada anak perempuan dengan sanak saudara yang memiliki riwayat keluarga gangguan fonologis atau gangguan komunikasi lainya.

ETIOLOGI GANGGUAN BAHASA EKSPRESIF

Penyebab gangguan bahasa ekspresif tidak di ketahui. Kerusakan serebral yang samar-samar dan keterlambatan maturasi dalam perkembangan serebral telah didalilkan sebagai penyebab yang mendasarinya, tetapi tidak ada bukti yang mendukung teori tersebut. Tangan kidal atau ambilateralitas tampaknya meningkatkan risiko.

Faktor genetik yang tidak di ketahui telah dicurugai memainakan peranan, karena sanak saudara anak-anak dengan gangguan belajar memilki insidensi gangguan bahasa ekpresif yang relative tinggi.

Gangguan fonologis

Gangguan fonologis termasuk banyak gangguan di  mana suara bicara yang di harapkan menurut perkembangan usia pasien dan kecerdasannya adalah tidak tepat atau terlambat. Gangguan dapat terdiri dari kesalahan dalam produksi suara, substitusi satu suara dengan suara yang lain, dan menghilangkan suara tertentu seperti konsonan akhir. Kesulitan mengganggu pencapaian akademik atau komunikasi social. Menurut Diagnoctic and Statistical Manual of Mental Disorders edisi keempat (DSM-IV), jika ditemukan retardasi mental, suatu defisit motorik dan sensorik bicara, atau pemutusan lingkungan, disfungsi bahasa adalah melebihi dari apa yang menyertai masalah tersebut.

Gangguan fonologis adalah katagori yang lebih luas di bandingkan gangguan artikulasi perkembangan (developmental articulation disorders), yang dituliskan dalam DSM edisi ketiga yang direvisi (DSM-III-R), gangguan artikulasi perkembangan adalah gangguan fonologis yang paling sering pada anak-anak dan merupakan prototip gangguan yang didefinisikan oleh katagori gangguan fonologis DSM-IV. Gangguan fonologis ditandai oleh misartikulasi yang sering, substitusi bunyi, dan menghilangkan suara bicara, memberikan kesan bicara seorang bayi. Keadaan ini tidak disebabkan kelainan anatomik, structural, fisiologis auditorik, atau neurologis. Keadaan itu bervariasi dari ringan sampai parah dan menyebabkan pembicaraan yang tertentang dari yang dapat dimengerti sampai yang tidak dapat dimengerti sama sekali.

EPIDEMILOGI GANGGUAN FONOLOGIS

Prevalensi semua disfungsi fonologis pada anak – anak adalah tidak diketahui, dan perkiraan adalah sangat bervariasi tergantung criteria diagnostik yang digunakan. Prevalensi gangguan fonologis dahulu diperkirakan 10 persen dari anak-anak di bawah usia 8 tahun dan 5 persen pada anak berusia 8 tahun lebih. Gangguan ini dua sampai tiga kali lebih sering pada anak laki-laki dibandingkan anak perempuan. Keadaan ini juga lebih sering pada sanak saudara derajat pertama dari pasien dengan gangguan dibandingkan populasi umum. DSM-IV melaporkan bahwa 2 sampai 3 persen dari anak yang berusia 6 sampai 7 tahun adalah menderita gangguan.

ETIOLOGI GANGGUAN FONOLOGIS

Penyebab gangguan fonologis adalah bervariasi dan terentang dari masalah perintal sampai gangguan pendengaran sampai kelainan structural yang berhubungan dengan berbicara. Keterlambatan perkembangan atau keterlambatan maturasional yang sederhana, bukannya disfungsi organic, dalam proses neurologis yang mendasari bicara, adalah keliru.

Suatu frekuensi tinggi gangguan fonologis telah ditemukan di antara anak-anak dari keluarga besar dan dari keluarga dengan status sosiekonomi rendah, yang menyatakan kemungkinan efek penyebab stimulasi dan dorongan bicara yang tidak adekuat pada keluarga tersebut.

Faktor konstitusional, bukannya factor lingkungan, tampaknya memiliki kepentingan utama dalam menentukan apakah anak memiliki gangguan fonologis. Banyak anak dengan gangguan adalah memilki sanak saudara dengan gangguan yang serupa yang menyatakan bahwa gangguan mungkin memiliki komponen genetik.

Koordinasi motorik yang buruk, lateralitas, dan sisi dominan (handedness) tidak berperan dalam gangguan fonologis.

Epidemiologi gangguan eliminasi enkopresis

Dalam kultur barat, pengendali usus didapatkan oleh lebih dari 95 persen anak pada usia 4 tahun dan oleh 99 persen anak pada usia lima tahun. Setelahnya, frekuensi menurun sampai sebenarnya tidaka ada pada usia 16 tahun. Setelah usia 4 tahun, enkopresi pada semua usia adalah tiga sampai empat kali lebih sering pada anak laki-laki dibandingkan anak perempuan. Pada usia 7 atau 8 tahun, frekuensi kira-kira adalah 1,5 persen pada anak laki-laki dan 0,5 persen pada anak perempuan. Pada usia 10 sampai 12 tahun, pengeluran feses sekali sebulan terjadi pada 1,3 persen anak laki-laki dan 0,3 persen anak perempuan

Etiologi gangguan eliminasi enkopresis

Tidak adanya latihan toilet yang tepat atau latihan yang tidak adekuat dapat memperlambat pencapaian kontinensia anak. Bukti-bukti menunjukkan bahwa beberapa anak enkopretik menderita pengendalian sfingter yang tidak efisien dan tidak efektif seumur hidup. Anak enkopretik yang jelas mampu mengendalikan fungsi ususnya dengan adekuat dan yang menampung feses dengan konsistensi yang relatif normal di tempat abnormal biasanya memiliki kesulitan psikiatrik.

Kadang-kadang anak memiliki ketakutan khusus dalam menggunakan toilet. Enkopresi mungkin juga di cetuskan oleh peristiwa kehidupan, seperti kelahiran adik atau pindah ke rumah baru.

Enkopresis setelah periode inkontinensia fekal yang lama kadang – kadang tampak merupakan suatu regresi setelah stress tertentu seperti perpisahan dari orang tua (parental separation), pindah rumah atau mulai sekolah.

GANGGUAN ELIMINASI

Pengendalian kandung kemih dan usus berkembang secara bertahap selama periode waktu tertentu. Latihan toilet (toilet training) dipengaruhi oleh banyak factor, seperti kapasitas inlektual anak dan meturitas social, determinan kultural, dan interaksi psikologis antara anak dan orang tua. Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders edisi keempat (DSM-IV) memasukan dua gangguan eliminasi, enkopresi dan enuresi. Enkopresi didefinisikan dalam DSM-IV sebagai suatu pola pengeluaran feses di tempat yang tidak sesuai, terlepas apakah pengeluarannya adalah tidak disadari atau disengaja. Pola harus ditemukan sekurangnya tiga bulan, dan usia kronologis anak harus sekurangnya 4 tahun, atau anak harus memiliki tingkat perkembangan anak berusia 4 tahun. Enuresis didefinisikan oleh DSM-IV oleh mengeluarkan urin secara berulang dalam pakaian atau tempat tidur, terlepas apakah miksi adalah tidak disadari atau disengaja. Perilaku harus terjadi dua kali seminggu selama sekurangnya tiga bulan atau harus menyebabkan pederitaan klinis yang bermakna atau gangguan social atau akademik.   Usia kronologis dan usia perkembangan anak harus sekurangnya 5 tahun.

Urutan normal dari perkembangan pengendalian fungsi usus dan kandung kemih adalah (1) perkembangan kontinensia fekal noktural (2) perkembangan kontinensia fekal diurnal, (3) perkembangan control kandung kemih diurnal, dan (4) perkembangan control kandung kemih nocturnal.

TERAPI GANGGUAN KECEMASAN

Pendekatan-pendekatan psikologis berbeda satu sama lain dalam tekhnik dan tujuan penanganan kecemasan. Tetapi pada dasarnya berbagai tekhnik tersebut sama-sama mendorong klien untuk menghadapi dan tidak menghindari sumber-sumber kecemasan mereka. Dalam menangani gangguan kecemasan dapat melalui beberapa pendekatan :
1.Pendekatan-Pendekatan Psikodinamika
Dari perspektif psikodinamika, kecemasan merefleksikan energi yang dilekatkan kepada konflik-konflik tak sadar dan usaha ego untuk membiarkannya tetap terepresi. Psikoanalisis tradisional menyadarkan bahwa kecemasan klien merupakan simbolisasi dari konflik dalam diri mereka. Dengan adanya simbolisasi ini ego dapat dibebaskan dari menghabiskan energi untuk melakukan represi. Dengan demikian ego dapat memberi perhatian lebih terhadap tugas-tugas yang lebih kreatif dan memberi peningkatan. Begitu juga dengan yang modern, akan tetapi yang modern lebih menjajaki sumber kecemasan yang berasal dari keadaaan hubungan sekarang daripada hubungan masa lampau. Selain itu mereka mendorong klien untuk mengembangkan tingkah laku yang lebih adaptif.
2.Pendekatan-Pendekatan Humanistik
Para tokoh humanistik percaya bahwa kecemasan itu berasal dari represi sosial diri kita yang sesungguhnya. Kecemasan terjadi bila ketidaksadaran antara inner self seseorang yang sesungguhnya dan kedok sosialnya mendekat ke taraf kesadaran. Oleh sebab itu terapis-terapis humanistik bertujuan membantu orang untuk memahami dan mengekspresikan bakat-bakat serta perasaan-perasaan mereka yang sesungguhnya. Sebagai akibatnya, klien menjadi bebas untuk menemukan dan menerima diri mereka yang sesunggguhnya dan tidak bereaksi dengan kecemasan bila perasaan-perasaan mereka yang sesungguhnya dan kebutuhan-kebutuhan mereka mulai muncul ke permukaan.
3.Pendekatan-Pendekatan Biologis
Pendekatan ini biasanya menggunakan variasi obat-obatan untuk mengobati gangguan kecemasan. Diantaranya golongan benzodiazepine Valium dan Xanax (alprazolam). Meskipun benzodiazepine mempunyai efek menenangkan, tetapi dapat mengakibatkan depensi fisik.
Obat antidepresi mempunyai efek antikecemasan dan antipanik selain juga mempunyai efek antidepresi.
4.Pendekatan-Pendekatan Belajar
Efektifitas penanganan kecemasan dengan pendekatan belajar telah banyak dibenarkan oleh beberapa riset. Inti dari pendekatan belajar adalah usaha untuk membantu individu menjadi lebih efektif dalam menghadapi situasi yang menjadi penyebab munculnya kecemasan tersebut. Ada beberapa macam model terapi dalam pendekatan belajar, diantaranya :
a)Pemaparan Gradual
Metode ini membantu mengatasi fobia ataupun kecemasan melalui pendekatan setapak demi setapak dari pemaparan aktual terhadap stimulus fobik. Efektifitas terapi pemaparan sudah sangat terbukti, membuat terapi ini sebagai terapi pilihan untuk menangani fobia spesifik. Pemaparan gradual juga banyak dipakai pada penanganan agorafobia. Terapi bersifat bertahap menghadapkan individu yang agorafobik kepada situasi stimulus yang makin menakutkan, sasaran akhirnya adalah kesuksesan individu ketika dihadapkan pada tahap terakhir yang merupakan tahap terberat tanpa ada perasaan tidak nyaman dan tanpa suatu dorongan untuk menghindar. Keuntungan dari pemaparan gradual adalah hasilnya yang dapat bertahan lama. Cara Menanggulangi ataupun cara membantu memperkecil kecemasan:
b)Rekonstruksi Pikiran
Yaitu membantu individu untuk berpikir secara logis apa yang terjadi sebenarnya. biasanya digunakan pada seorang psikolog terhadap penderita fobia.
c)Flooding
Yaitu individu dibantu dengan memberikan stimulus yang paling membuatnya takut dan dikondisikan sedemikan rupa serta memaksa individu yang menderita anxiety untuk menghadapinya sendiri.
d)Terapi Kognitif
Terapi yang dilakukan adalah melalui pendekatan terapi perilaku rasional-emotif, terapi kognitif menunjukkan kepada individu dengan fobia sosial bahwa kebutuhan-kebutuhan irrasional untuk penerimaan-penerimaan sosial dan perfeksionisme melahirkan kecemasan yang tidak perlu dalam interaksi sosial. Kunci terapeutik adalah menghilangkan kebutuhan berlebih dalam penerimaan sosial. Terapi kognitif berusaha mengoreksi keyakinan-keyakinan yang disfungsional. Misalnya, orang dengan fobia sosial mungkin berpikir bahwa tidak ada seorangpun dalam suatu pesta yang ingin bercakap-cakap dengannya dan bahwa mereka akhirnya akan kesepian dan terisolasi sepanjang sisa hidup mereka. Terapi kognitif membantu mereka untuk mengenali cacat-cacat logis dalam pikiran mereka dan membantu mereka untuk melihat situasi secara rasional. Salah satu contoh tekhnik kognitif adalah restrukturisasi kognitif, suatu proses dimana terapis membantu klien mencari pikiran-pikiran dan mencari alternatif rasional sehingga mereka bisa belajar menghadapi situasi pembangkit kecemasan.
e)Terapi Kognitif Behavioral (CBT)
Terapi ini memadukan tehnik-tehnik behavioral seperti pemaparan dan tehnik-tehnik kognitif seperti restrukturisasi kognitif. Beberapa gangguan kecemasan yang mungkin dapat dikaji dengan penggunaan CBT antara lain : fobia sosial, gangguan stres pasca trauma, gangguan kecemasan menyeluruh, gangguan obsesif kompulsif dan gangguan panik.
Pada fobia sosial, terapis membantu membimbing mereka selama percobaan pada pemaparan dan secara bertahap menarik dukungan langsung sehingga klien mampu menghadapi sendiri situasi tersebut

Gangguan kecemasaan

Kecemasan merupakan hal yang normal terjadi pada setiap individu, reaksi umum terhadap stress kadang dengan disertai kemunculan kecemasan. Namun kecemasan itu dikatakan menyimpang bila individu tidak dapat meredam (merepresikan) rasa cemas tersebut dalam situasi dimana kebanyakan orang mampu menanganinya tanpa adanya kesulitan yang berarti.

Kecemasan dapat muncul pada situasi tertentu seperti berbicara didepan umum, tekanan pekerjaan yang tinggi, menghadapi ujian. Situasi-situasi tersebut dapat memicu munculnya kecemasan bahkan rasa takut. Namun, gangguan kecemasan muncul bila rasa cemas tersebut terus berlangsung lama, terjadi perubahan perilaku, atau terjadinya perubahan metabolisme tubuh.

Gangguan kecemasan diperkirakan mengidap 1 dari 10 orang. Menurut data National Institute of Mental Health (2005) di Amerika Serikat terdapat 40 juta orang mengalami gangguan kecemasan pada usia 18 tahun sampai pada usia lanjut.
Ahli psikoanalisa beranggapan bahwa penyebab kecemasan neurotik dengan memasukan persepsi diri sendiri, dimana individu beranggapan bahwa dirinya dalam ketidakberdayaan, tidak mampu mengatasi masalah, rasa takut akan perpisahan, terabaikan dan sebagai bentuk penolakan dari orang yang dicintainya. Perasaan-perasaam tersebut terletak dalam pikiran bawah sadar yang tidak disadari oleh individu.

Berbeda dengan pendapat psikoanalisa, ahli psikologi teori belajar beranggapan bahwa kecemasan lebih disebabkan peristiwa eksternal dibandingkan konflik internal dalam pribadi individu. Adanya pengkondisian yang siap (prepared conditioning) pada individu membuat individu semakin siap dalam menghadapi pelbagai situasi stressor dikemudian hari.

Analisis kognitif munculnya kecemasan disebabkan oleh bagaimana individu memikirkan situasi dan kemungkinan-kemungkinan bahaya yang mungkin dapat muncul. Pikiran-pikiran tersebut kadang tidak realistik, individu cenderung untuk menambahkan tingkat bahaya tersebut dibandingkan pada orang normal yang menilai “tidak begitu berbahaya”. Akibatnya indvidu meningkatkan tingkat kewaspadaan secara berlebihan (tentunya dengan ada rasa cemas berlebihan) dan mencari-cari tanda bahaya. Misalnya saja suara bising ditengah malam pada sebuah rumah, individu menginterpretasikan seebagai perampokan dan sebagainya. Parahnya tingkat kecemasan sangat tergantung pada indvidu bagaimana melakukan obsesi kecemasannya itu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s